SEGI TIGA BIRU DI SAMUDERA MAHA KERINCI
Oleh: Dian Siswanto
28/08/14
Sore itu langit tak lagi menampakkan cerahnya, gumpalan awan menghitam dan nyaris menjatuhkan beban yang tak tertahankan. Sementara pesawat televisi di rumahku sedang ramai memperdebatkan sidang istbat penentuan awal Ramadhan tahun ini. Aku lebih memilih keluar dari rumah dan sejenak memandang ke arah puncak Maha Kerinci, yang letaknya persis di depan rumahku berdiri dengan kokohnya, terkadang sering terfikir bagaimana Tuhan menciptakan benda sebesar itu, dan jika Tuhan menhendaki gunung itu diangkat dan kemudian dijatuhkan persis di atas rumahku, hancurlah aku.
Tiba-tiba terdengar bunyi nada dering hp di sakuku, ternyata Aziz Khozin Efendi, ia adalah teman seperjuangkanku waktu di Tsanawiyah dulu, sudah lama sekali kami tidak bertemu, " Aslam Bro gimna ni jadi kita mendaki??hari kayaknya mau hujan" tanya nya sambil meragu, tapi aku berusaha meyakinkan, " ngk apa kita berangkat aja, kita berangkat bertiga" jujur sore itu sebenarnya aku juga ragu untuk membuat keputusan itu. tapi insyaallah kalaw niatnya baik Allah bersama kita. sebelumnya aku sudah berusha menghubungi teman2 yang lain untuk ikut serta dalam petualangan itu, ya termasuk sahabat kembaranku itu Kang Joe Waelah, kami berdua kembar hanya beda warna kulit aja, kalau dia berkulit ala korea dan aku berkulit ala Papua,, hahah begitulah kami. Tapi sayang sahabat lamaku itu yang kami hanya bisa bertemu satu tahun sekali,,, sedang sibuk dengan urusan kuliah dan rencana pernikahanya (hehehe). aku kembali membuka kontak hpku,,, ku coba hubungi Ahmad Rony tetanggaku itu,,, ia menyatakan diri siap. Sore itu juga usai shalat ashar kami memulai langkah pertama untuk maju mendaki puncak tertinggi di Sumatera itu... diantara kami bertiga yang pernah mendaki gunung itu hanya Roni, selebihnya aku daN Aziz merupakan peserta amatiran. hari semakin gelap, matahari tak lagi menampakan sapaan cahayanya. aku bersama kedua sahabatku itu, mulai menghidupkan senter yang kala itu baru kami tersadar bahwa persiapan kami tidak ada yang savety, Rony hanya menggunakan lampu senter dari korek api kecil, sedang aku menggunakan lampu rumah carger rumahan yang biasa dipakai orang ketika listrik padam, begitupun dengan aziz, lampu yang ia gunakan tidak beda dengan punyaku. Bayangkan kawan, betapa asal asalan persiapan kami untuk mendaki puncak tertinggi di Sumatera itu, dari mulai tenda, matras, dan lain sebagainya tidak ada kami bawa. kami hanya mengenakan perlengkapan yang menempel di badan kami, untuk berlindung dari dinginnya badai di puncak itu, kami hanya mengenakan matel plastik. kelebihan kami hanya membawa perlengkapan makanan yang cukup banyak hingga kami tidk perlu mersa lapar di puncak sana. Masih di tengah perjalanan, di tengah-tengah kegelapan malam itu, kami memutuskan untuk istirahat sejenak, namun kami tiba-tiba kami dikagetkan dengan sesorang yang amat misterius, dengan pakaian dan perlengkapan gunung ia berjalan sendirian mendekati ke arah kami. wajahnya memang tidak tampak jelas, tapi orang itu tampak tak mau bnyak bicara, ia hanya mengajak untuk terus berjalan.. akhirnya bertamabah satu orang lagi anggota kami,,, aku memang merasa was-was dan ada yang tidak beres dengan orang baru itu,,,, tapi aku berusha untuk santai aja, sambil bercanda dengan teman-teman yang lain, aku mulai membuka kisah lucu saat mulai perjalanan usai shalat ashar tadi, kami berjumpa dengan beberapa orang yang mulai turun dari puncak, mereka ada yang berasal dari Jambi, bandung, jawa tengah,,, dan fun nya saat itu juga kami berjumpa denga beberapa orang Turis,,, hmmm awalnya aku agak PD mau ajak mereka bercakap2,,, eh tapi tak ku duga, ternyata Aziz kawanku itu nyosor duluan menyapa mereka, dan aku berusha dengan serius menyimak perbincangan aziz dan para bule itu,,hahah,,, tapi luar biasa Aziz, ia menyapa dengan santun para bule itu dengan tiga salam, padahal waktu masih sore, Aziz bilang " Hallo Mister, good morning, good evening, good night" hahah kemudian bule bule itu tetawa ria, salah seorang ,mereka bertanya " Will you going to the Top?" Aziz menjawab dengan PD Yes,yes yes..... ok mister thank you.. saat kami menceritakan itu kembali di tengah perjalanan suasana terasa lebih hangat mesti saat itu dinginya masyaAllah.. tapi orang itu juga masih belum banyak bicara, perlahan kami mulai masuk dan mengajak cerita,,, namun ia hanya merespon dibangian bagian yang penting aja. jam sudah menunjukkan pukul 23.00 kami memutuskan untuk beristiharat di Selter 2, ketinggianya cukup lumayan, tak disangka awalnya kami mengira malam itu akan turun hujan, tapi malah sungguh cerah malam itu, kamipun bisa menikmati pemamndangan di bawah sana dengan leluasa, lampu lampu menghiasi sudut sudut perkampungan di sna.. kami membuat api unggun dan tidur di dekatnya,,, sungguh meski ada api, tapi api di atas sana tidak lagi tersa seperti api...
*** BERSAMBUNG.... !!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar