AKU DAN KRETA ANGIN
Oleh : Dian Siswanto
25/08/14
Jarum jam tanganku menunjuk ke angka 10.45 Wib, hari itu cukup panas, ditambah polusi udara yang cukup membuat sesak rongga pernafasanku. Hal ini bisa jadi karena mayoritas orang Indonesia lebih suka naik kendaraan bermotor dari pada sepeda yang ramah lingkungan itu. Dan aku adalah salah satu orang Indonesia yang tergolong penyebar asap-asap polusi itu, karena kenalpot si Revo Fit yang terus memuntahkan karbondioksida memang tak dapat dielakkan. Kadang aku berfikir di negara negara Eropa sana justru persoalan lingkungan sangat menjadi perhatian utama, padahal mayoritas mereka bukan muslim, terlebih pemerintah memberikan penghargaan kepada orang orang yang menggunakan sepeda kendaraan ramah lingkungan itu dengan jarak tertentu. sementara di negeriku ini, pemimpinnya seorang muslim, penduduknya juga muslim bahkan terbesar di dunia, dalam teori terori fiqih justru bab tentang adab kebersihan dan penjagaanya yang pertama kali di bahas, namun mungkin saja konsep2 itu belum dapat memberikan solusi kongkrit bagi lingkungan. Nah aku sedang tidak ingin berbicara tentang lingkungan tetapi ini mengenai seorang misterius yang ku temui di tengah tengah ramainya kendaraan di jalan raya. Awalnya aku dengan si Revo sedang berjalan dengan kecepatan 40 km/jam, melwati Statsiun Kreta Api simpang Haru Padang. Terus berjalan hingga aku dan Revo sampai di depan warung bakso yang cukup ternama, terus berjalan, tiba tiba datang seorang usia separuh baya, wajahnya cukup panjang dan berjenggot tipis.... ia berjalan menyamai kecepatan si Revo (Kreta Anginku),,,,kami terus berjalan ke depan bersama Bapak pejalan kaki itu,,,, dalam benakku aku kira mungkin Bapak itu sedang terburu buru mengejar sesuatu, sebab wajahnya begitu serius, tatapan tajam dan lurus ke depan, ya Seperti tentara Israel yang mengejar Hamas. Namun seketika aku terkejut, saat lampu merah aku dan si Revo berhenti pas di tengah tengah jalan bagian paling depan dengan sejerentetan mobil dan kendaraan di belakangku,, namun Bapak si Pejalan kaki tadi ia juga ikut berhenti di sebelahku,,, dan berkata yang ntah aku tak paham maksudnya.. saat lampu hijua menyala aku dan revo tancap gas,,dan Bapak perjalan kaki itu juga ikut tancap gas..... belakangan ku sadari ternyata orang tadi bukan karena buru buru, tetapi memang seperti itu kerjaanya,,, bikin para pengendara ketawa abis..
" jika orang gila saja, bisa mengerti akan bahaya polusi udara, dan ia lebih memilih jalan kaki,,kenapa tidak dengan kita? ya termasuk saya ini "
....jangan tunggu gila dulu untuk mengurangi polusi udara ( Dian Siswanto)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar